Kelompok 4 FKS 1 periode 26 Juni- 29 Juli 2006

Juli 16, 2006

Web Master : 1. Michael Pinehas T.

2. Yessy B.

3. Rieke I.

4. Dianningsih

5.  Arianti

Thanks for tutorial to dr. Ferryal Basbeth Sp. F DFM

FAKTOR – FAKTOR RISIKO TERJADINYA CEDERA AKIBAT TRAUMA FISIK SEBAGAI DAMPAK KEKERASAN SEKSUAL PADA KORBAN WANITA DAN PRIA

Juli 16, 2006

ANN L. COKER

LUCILLE G. WALLS

JOSEPH E. JOHNSON

University of South Carolina

 

            Angka kejadian trauma akibat kekerasan seksual mencapai 38,6%, berdasarkan data yang diperoleh dari The National Crime Victimization Survey (NCVS) (Marchbanks, Lui, dan Mercy, 1990) dan dapat mencapai angka yang lebih tinggi yaitu sebesar 61% (Bang, 1993) bagi para korban yang datang ke Trauma Center untuk mendapatkan perawatan. Angka kejadian kekerasan fisik yang berkorelasi dengan kekerasan seksual yang telah dilaporkan oleh Bang, tampaknya terlalu tinggi dari yang sebenarnya. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar dari korban kekerasan seksual yang menderita cedera lebih memilih untuk pergi ke rumah sakit daripada pergi ke Trauma Center. Cedera-cedera yang berkaitan dengan kekerasan seksual dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok yaitu cedera fisiologik, trauma genital dan cedera akibat trauma fisik lainnya. Berdasarkan pada populasi umum, korban-korban kekerasan seksual lebih sering menunjukkan kecemasan yang berlebihan, depresi, gangguan stres post traumatic dan memiliki ide (pikiran) untuk bunuh diri sampai dengan melakukan tindakan percobaan bunuh diri (Kilpatrick et al., 1985). Insidens trauma pada vagina yang berkorelasi dengan kekerasan seksual adalah berkisar antara 9% sampai dengan 40% (Cartwright, 1987: Rambow, Adkinson, Frost, dan Peterson, 1992 : Ramin, Satin, Stone, danWendel, 1992).

JOURNAL OF INTERPERSONAL VIOLENCE, Vol.13 No.5, Oktober 1998, hal 605-620

Juli 16, 2006

1998 Sage Publication, Inc.   

            Trauma fisik (termasuk genitalia) yang dialami korban-korban kekerasan seksual bervariasi, mulai dari luka memar sampai ke kematian. Pada tahun 1985, Hoelzerdan Tintinalli telah melaporkan bahwa cedera fisik yang paling sering terjadi adalah pada bagian kepala, wajah dan leher. Hampir setengah dari populasi wanita yang mengalami kekerasan seksual menderita luka-luka ringan seperti luka gigitan, cakaran, luka lecet, luka memar, dan luka terbuka (Block dan Skogan, 1986). Sedangkan populasi sisanya yaitu ± 12% yang menderita luka-luka dan dirawat di luar rumah sakit, membutuhkan perhatian dari segi medis (Everett dan Jimerson, 1977), hal tersebut termasuk pada kasus patah tulang, gigi patah, dan luka-luka yang memerlukan tindakan penjahitan. Sebagai tambahan, sekitar 2% sampai dengan 5% dari populasi tersebut membutuhkan perawatan di rumah sakit dan atau pembedahan (Block dan Skogan, 1986). Angka mortalitas yang berkaitan dengan kekerasan seksual diperkirakan berkisar antara 0,1% sampai dengan 0,2% (Browne, 1993).

            Beberapa studi telah menjelaskan mengenai faktor-faktor risiko untuk cedera-cedera yang menyebabkan trauma yang terjadi pada korban-korban kekerasan seksual. Ras (suku bangsa) dari korban  dan pelaku kekerasan seksual, senjata yang dipergunakan oleh pelaku, hubungan antara pelaku kekerasan seksual dan korban serta waktu dan lokasi terjadinya kekerasan seksual telah tercatat sebagai faktor-faktor risiko untuk terjadinya cedera pada wanita korban kekerasan seksual (Bang, 1993: Browne, 1993: Everett dan Jimerson, 1977: Hayman, Lanza, Fuentes, dan Algor, 1972: Marchbanks et al…, 1990: Ramin et al…, 1992: Ulman dan Knight, 1991). Wanita usia tua maupun usia muda yang telah mengalami kekerasan seksual memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya perlukaan pada genitalianya (Everett dan Jimerson, 1977: Hayman dan Lanza, 1971: Pokorny , Pokorny, dan Kramer, 1992)

            The American College of Obstetrics and Gynecology Committee pada Adolescent Health Care (1993) menyatakan bahwa kekerasan seksual meliputi 5% dari seluruh jenis tindak kekerasan. Berdasarkan Miller, Cohen dan Rossman (1993), Biaya denda kerugian terdap kasus kekerasan seksual dengan disertai perlukan dan trauma adalah sebesar $ 60.000.

            Studi secara cross sectional tersebut yang dilakukan the Federal Bureau of Investigations (FBI) dengan mempergunakan National Incident Based Reporting System (NIBRS) dan data yang diperoleh dari daerah Carolina Selatan untuk tahun 1991 sampai dengan 1994 (periode 3 tahun), termasuk seluruh kekerasan seksual yang dilaporkan ke polisi untuk menguji faktor-faktor risiko terhadap cedera akibat trauma fisik yang terjadi baik pada korban wanita maupun pria. Kami mengklasifikasikan cedera akibat trauma fisik kedalam dua (2) bagian yaitu cedera genital dan cedera non genital. Meskipun demikian, karena laporan polisi yang dipergunakan, kita tidak dapat yakin bahwa kasus-kasus dengan cedera pada genital telah dilaoprkan seluruhnya.

            Untuk itulah, pada analisis ini kita akan melakukan evaluasi terhadap faktor-faktor risiko untuk terjadinya cedera fisik non genital. Faktor-faktor risiko yang yang telah ditemukan dan telah dilaporkan dalam NIBRS yaitu pada bentuk laporan kejadian (insidens) dan termasuk faktor demografi (usia, gender, dan ras/suku bangsa) dari korban dan pelaku (jika diketahui) serta karakteristik situasi dari kekerasan yang terjadi(waktu, hari, musim, lokasi, penggunaan senjata, penggunaan alcohol/obat-obatan, dan tindak kriminal lainnya yang terjadi bersamaan dengan insidens kekrasaan seksual). Beberapa studi telah menjelaskan faktor-faktor risiko untuk kekerasan seksual yang dilakukan oleh beberapa pemerkosa (gerombolan atau grup pemerkosa) atau cedera yang menyebabkan trauma pada pria korban kekerasan seksual.     

METODE

Juli 16, 2006

Sumber Data

        NIBRS mengambil data insiden berdasarkan 98% laporan Kepolisian Carolina Selatan. Semua insiden termasuk perkosaan melalui vagina, sodomi atau kejahatan seksual dengan benda. Incest tidak dimasukkan karena tidak dapat ditentukan apakah korban incest mengalami penetrasi vagina atau oral sama dengan kejahatan seksual lainnya. Setiap insiden kejahatan dimana kejahatan seksual muncul tidak terkait dengan kejahatan lainnya. Penelitian ini mengidentifikasi karakter korban kejahatan seksual dan karakter pelaku kejahatan. Seluruh kasus yang di laporkan antara 1 November 1991 dan 30 Oktober 1994 ikut disertakan.

 

Analisa Statistik

Juli 16, 2006

Penelitian ini mempergunakan studi cross sectional mengevaluasi korelasi luka fisik traumatic korban kelihatan seksual. Pada studi ini kejahatan seksual dibatasi sebagai hubungan seksual tanpa persetujuan, sodomi atau kejahatan seksual dengan benda. Luka fisik traumatik dibatasi sebagai suatu manifestasi somatic kerusakan pada korban akibat kejahatan seksual. Luka fisik traumatic terbagi dua yaitu :

1.     Luka berat yaitu luka yang memerlukan perhatian medik seperti patah tulang, laserasi, pingsan, luka bakar, luka bekas ikatan tali, luka karena senjata atau pisau.

2.     Luka minor seperti laserasi minor, memar, cakaran, dan gigitan.

 

        Faktor  Resiko yang  berpengaruh berdasarkan karakteristik korban, pelaku kejahatan  dan situasi berdasarkan gender. Variabel demografik antara korban dan pelaku kejahatan (usia, ras, gender, jumlah pelaku kejahatan dan hubungan antara korban dan pelaku) dan karakteristik situasi saat terjadi kejahatan seksual (senjata yang dipergunakan pelaku kejahatan, penggunaan alcohol atau obat oleh korban atau pelaku kejahatan, kejahatan lain yang terkait dengan kejahatan seksual, lokasi terjadi kejahatan seksual, musim, jam pada hari kejadian dan hari dalam 1 minggu dimana muncul kejahatan seksual.

        Penelitian ini mempergunakan tes chi-square dengan variasi degree of freedom tergantung banyaknya faktor resiko yang mempengaruhi dan luka traumatic yang diterima. Di pergunakan model regresi multiple logistik yang dipisahkan untuk korban laki-laki dan perempuan, tetapi model regresi multiple logistik dapat menjadi bias bila terdapat 2 level luka relatif pada kasus yang dilaporkan tidak ada luka.

 

HASIL

Juli 16, 2006

Tabel 1 menjelaskan distribusi frekuensi karakteristik kekerasan seksual berdasarkan gender. Dari laporan Departemen Kehakiman Carolina Selatan dengan menggunakan system pelaporan dasar kekerasan nasional. Kekerasan seksual yang totalnya berjumlah 6877 kasus yang telah dilaporkan selama periode tiga (3) tahun, 6213 korban adalah wanita dan 664 adalah pria. Rata-rata jumlah kekerasan seksual perseribu penduduk Carolina Selatan pertahun yang dihitung dari data ini berdasarkan gender sebanyak 1,09 per 1000 wanita dan 0,16 per 1000 pria. Seperti yang terlihat pada gambar 1, perhitungan rata-rata tersebut secara substansial berbeda dari segi umur, ras dan gender dari korban tersebut. Yang dihadirkan pada gambar 1 adalah rata-rata kekerasan seksual spesifik terhadap usia per 1000 penduduk Carolina Selatan berdasarkan gender dan ras. Kebanyakan kekerasan seksual yang terjadi antara penduduk kulit putih dan non kulit putih , tidak tergantung dari gender, biasanya terjadi pada usia lebih muda dari 45 tahun. Mayoritas dari seluruh kekerasan seksual yang dilaporkan polisi terjadi pada pria yang berusia kurang dari 25 tahun. Rata-rata kekerasan seksual pada pria non kulit putih lebih ringan jika dibandingkan dengan yang terjadi pada pria kulit putih. Bagaimanapun pada kebanyakan populasi wanita, angka kejadian kekerasan seksual pada wanita non kulit putih mencapai 2-3 kali lebih tinggi daripada wanita kulit putih dan tergantung pada faktor usia.

Perbedaan Gender sebagai Faktor Risiko pada Korban Kekerasan Seksual

Juli 16, 2006

Analisa kami terhadap 6877 kasus kekerasan seksual yang dilaporkan polisi bagian Carolina Selatan menyatakan bahwa korban kekerasan seksual baik laki-laki maupun perempuandibedakan oleh karakteristik demografi. Perbandingan antara korban laki-laki dan korban perempuan dimana didapatkan usia yang lebih muda dari 21 tahun untuk kulit putih dan perkosaan tersebut dilakukan oleh pemerkosa usia muda yaitu kurang dari 18 tahun , dengan hubungan pelaku dan korban yang tidak dekat dan dilakukan pada malam hari. Untuk korban laki-laki didapatkan angka yang lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang diperkosa dengan ancaman senjata atau dengan cara diculik. Alkohol dan atau penggunaan obat-obatan lain yang dilaporkan lebih banyak dipergunakan pada kasus kekerasan seksual pada korban wanita daripada korban pria.

Distribusi Korelasi dari Cedera Traumatik

Juli 16, 2006

Cedera traumatic dilaporkan terjadi pada 18,4% korban kekerasan seksual pria dan 28,5% korban kekerasan pada wanita yang dilaporkan ke polisi: 5,6% dari laki-laki dan 5,7% dari perempuan

 

Tabel 1. Frekuensi Faktor-Faktor Risiko Berdasarkan Gender pada Korban Kekerasan Seksual

 

 

                                                            Proporsi Kekerasan Seksual

                                         Korban dengan faktor risiko berdasarkan gender

 
 

 

                                                            Laki-laki (%)             Wanita (%)        Odds Ratio

Faktor Risiko                                         (N = 664)                ( N = 6.213)         & 95% CI

 

 Ras Korban

            Tidak putih                                     38,5                            48,2             0,7 (0,6-0,8)

            Putih                                                 61,5                           51,8            1,0 ( REF)

Usia Korban

            Anak-anak (≤ 10 tahun)                  61,6                           15,0        20,6 (14,1-30,4)

            Remaja (11-20 thn)                         28,5                           41,6             3,4 (2,3-5,1)

            Dewasa muda (21-30 thn)               4,8                            24,2             1,0 (REF)

            Dewasa tua (> 30 thn)                     4,8                             19,2            1,3 (0,8-2,1)

Ras korban dan pelaku

    Korban putih/pelaku putih          54,8                             40,4            1,0 (REF)

    Korban putih/pelaku non putih             6,7                              11,4           0,4 (0,3-0,6)

    Korban non putih/pelaku putih             3,2                                2,2           1,1 (0,6-1,7)

    Korban non putih/pelaku non putih    35,4                              46,0          0,6 (0,5-0,7)

Gender pelaku

            Wanita                                                5,2                                2,2          2,5 (1,7-3,7)

            Pria                                                   94,8                              97,8          1,0 (REF)

Usia pelaku

            < 18 thn                                               44,8                              13,4         4,7(3,9-5,6)

            18-24 thn                                             11,6                             25,6         0,6(0,5-0,8)

 

                                                           

      Proporsi Kekerasan Seksual

                                        Korban dengan faktor risiko berdasarkan gender

 
 

 

Laki-laki (%)             Wanita (%)        Odds Ratio

Faktor Risiko                                         (N = 664)                ( N = 6.213)         & 95% CI

≥ 25 thn                                         43,6                              61,0                1,0 (REF)

Hubungan Korban-pelaku

            Dekat                                               0                                  8,0                 0 ( 0 -0,1)

            Relatif (Tidak dekat)        33,6                              19,3             1,6(1,4-2,0)

            Asing (tak dikenal)                       10,4                              20,5             0,5 (0,4-0,6)

            Dikenal                                          56,0                              52,2             1,0 (REF)

Derajat cedera fisik

            Berat                                                5,6                                5,7            0,9 (0,6-1,2)

            Ringan                                             13,0                              23,1           0,5 (0,4-0,6)

            Yang tidak dilaporkan                    81,4                               71,2           1,0 (REF)

Jenis kekerasan seksual

            Dengan objek                                    6,5                                  8,4         0,8 (0,5-1,1)

            Sodomi                                             93,5                                10,6        1,0 (REF)

            Hubungan vagina                               0                                    81,0       

Jumlah pelaku

            > 1                                                     11,3                                  11,4      1,0 (0,8-1,3)

            Pelaku tunggal (1)                            88,7                                  88,6       1,0 (REF)

Jenis senjata yang dipergunakan

saat kekerasan seksual

            Pisau                                                 2,0                                      5,4     0,3 (0,2-0,6)

            Senjata Api                                        1,7                                      4,4     0,4 (0,2-0,7)

            Senjata tumpul lainnya                     3,8                                      2,7     1,3 (0,8-2,1)

            Tanpa senjata                      92,6                                     87,6    1,0 (REF)                  

Proposi Korban Kejahatan Seksual

Dengan Faktor Resiko dipengaruhi oleh Gender

Catatan :

             CI       :           Confiden Interval ( Interval Kepercayaan )

            REF     :           Referent/Comparison catagory (Referensi atau kategori perbandingan)

a.         Ekslusi :           korban  9 pria dan 139 perempuan dengan pelaku kejahatan tidak di ketahui

b.         Pelaku hanya sendirian, tidak termasuk 9 laki-laki dan 72 perempuan yang hilang.

c.         Pelaku sendirian, tidak termasuk 18 laki-laki dan 247 perempuan

d.         Odds Ratio untuk benda, dengan sodomi atau kejahatan seksual

            Korban kejahatan seksual mengalami luka berat. Hampir semua kejahatan seksual (88,6%) melibatkan seorang pelaku kejahatan. Pelaku kejahatan lebih dari separah di kenal korban kejahatan seksual. Mayoritas (90% pria dan 86% perempuan) mengalami tindakan kejahatan oleh orang dari ras yang sama.

Kesimpulan dari Korelasi Terhadap Cedera Trauma Fisik Berdasarkan Gender

Juli 16, 2006

Tabel 2 menjelaskan kesimpulan menegenai adanya korelasi dari cedera trauma fisik berdasarkan gender diantara korban kekerasan seksual. Rasio dari cedera lain sebanding dengan tanpa adanya cedera dijelaskan oleh adanya korelasi yang signifikan yang berhubungan dengan cedera berdasarkan gender. Berdasarkan studi cross sectional, kami tidak dapat memprediksi adanya factor risiko terhadap adanya cedera fisik non genital. Bagaimanapun kami dapat mengidentifikasi adanya hubungan terhadap cedera yang terjadi. Diantara korban kekerasan seksual yang terjadi pada pria (mayoritas adalah sodomi), korban berdasarkan ras (biasanya kulit putih), korban menurut usia (kurang dari 21 tahun), menggunakan senjata tumpul dan alcohol atau obat-obatan lainnya, dimana adanya hubungan yang signifikan dengan cedera trauma fisik. Umumnya pada wanita korban kekerasan seksual mengalami kekerasan fisik. Ini terjadi pada korban dari berbagai usia (kurang dari 21 tahun). Pemerkosa dalam jumlah yang banyak melakukan pemerkosaan terhadap orang yang tidak dikenal atau terhadap teman dekatnya. Pisau atau penggunaan senjata tumpul, terjadinya penculikan dengan kekerasan seksual dan penggunaan alkohol dan atau obat-obatan lainnya oleh korban dan atau pemerkosa.    

 

Faktor-faktor yang memperberat  cedera diantara wanita-wanita korban penyerangan seksual.

Tabel 3.

Ringkasan dari faktor-faktor resiko untuk setiap cedera traumatis diantara korban-korban penyerangan seksual berdasarkan gender.

CATATAN: CI= confidance interval; NE= tidak dapat diperkirakan; 0 laki-laki yang cedera pada hubungan yang intim atau dicederai dan diculik. REF= referent atau comparison category. Odds ratio untuk korban penyerangan seksual laki-laki disesuaikan untuk ras korban, penggunaan senjata, kejahatan lain yang terjadi selama penyerangan seksual dan penggunaan alkohol dan obat-obatan lainnya oleh korban maupun penyerang. Odds ratio untuk korban penyerangan seksual wanita disesuaikan untuk umur korban, jumlah penyerang, hubungan korban dan penyerang, penggunaan senjata, kejahatan lain yang terjadi selama penyerangan seksual dan penggunaan alkohol dan obat-obatan lainnya oleh korban maupun penyerang.

a. Perbandingan antara korban dengan cedera traumatis dengan korban tanpa cedera

 

Tabel 3 memperlihatkan suatu kajian terhadap faktor-faktor resiko untuk cedera traumatis berdasarkan beratnya cedera. Analisis-analisis ini hanya disikapi untuk wanita, karena analisis ini tidak memiliki jumlah yang cukup untuk analisis parallel pada pria. Berdasarkan jenis cedera tersebut, korban dikategorikan kedalam dua (2) kelompok yaitu yang mengalami cedera berat atau cedera ringan: sebagai pembending juga dimasukkan kelompok yang tidak mengalami cedera. Odd Ratio (OR) dan Korelasi Confidence intervals (CI) pada tabel 3 akan dipergunakn untuk menentukan kovariat.

Juli 16, 2006

 

Table 3

Tingkat keparahan luka trauma dengan faktor resiko korban wanita

 

 

Korban menurut usia dan Ras, penggunaan senjata, tindak criminal lain yang dilakukan selama kekerasan seksual, korban/ pemerkosa dan penggunaan alkohol dan atau obat-obatan lainnya yang penggunaannya dilaporkan oleh korban dan atau pemerkosa. Hal lain yang berkorelasi dari peningkatan cedera berat, adanya kekerasan seksual dengan objek. Pemerkosa menggunakan senjata dan pemerkosa dengan jumlah yang banyak yang melakukan kekerasan seksual.

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.